Lembaga Keagamaan

Arti Lembaga Agama

Lembaga agama merupakan sistem keyakinan dan praktik keagamaan yang penting dalam masyarakat yang telah dibekukan dan dirumuskan serta dianut secara luas dan dipandang sebagai sesuatu hal yang perlu dan benar.

 

Arti Agama

Para sosiologi mendefinisikan agama sebagai sebuah sistem keyakinan dan praktik sebagai sarana bagi sekelompok orang untuk menafsirkan dan menganggapi apa yang mereka rasakan sebagi pengada adikodrati (supernatural).

 

Agama dan Masyarakat

Para sosiologi tertarik dengan interaksi antara agama dan masyarakat. Sama seperti interaksi yang  lain, interaksi ini merupakan pertemuan dua arah, dan kadang-kadang sulit sekali menentukan batas mana yang religius dan tidak religius. Jadi, pengertian tentang keadilan dan bentuk kehidupan keluarga telah dipengaruhi oleh agama. Sosiologi tidak berusaha untuk menghakimi kebenaran keyakinan suatu agama. Namun, berupaya untuk menemukan pengaruh sosial dari berbagai macam keyakinan dan menemukan tendensi dari berbagai jenis keyakinan dan kebiasaan agama tertentu yang berkembang dalam kondisi sosial tertentu.

Agama sebagai suatu tahap evolusi

  • August Comte, yang sering dipandang sebagai “Bapak Sosiologi”, menyodorkan pandangan sekuler, bahwa agama merupakan suatu tahap evolusi.
  • Comte (1855) menuliskan tiga tahap pemikiran manusia: teologis (religius), metafisis (filosofis), dan ilmiah (positif).

Agama sebagai kekuatan pemersatu masyarakat

  • Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis angkatan pertama, bertahun-tahun menyelidiki praktik-praktik religius suku asli Australia dan penduduk kepulauan di Laut Selatan. Dalam The Elemantary Forms of Religious Life (1912) ia menyimpulkan, bahwa tujuan utama agama dalam masyarakat primitif adalah untuk membantu manusia berkomunikasi bukan dengan Tuhan-Nya, melainkan dengan sesamnya. Ritual-ritual religius membantu orang untuk mengembangkan rasa sepaguyuban (sense of community).
  • Pengaruh agama yang mempersatukan masyarakat mungkin dipenuhi oleh apa yang disebut oleh Belah (1974, 1975, 1980) dan lain-lain dengan “agama sipil/rakyat” (civil religion). Konsep agama sipil di Amerika adalah meskipun Amerika tidak mempunyai geraja negara, masih ada pengaruh agama terhadap kehidupan nasional. Meskipun ada beragam gereja yang terpisah-pisah karena banyaknya perbedaan, agama sipil orang Amerika mempunyai unsur-unsur umum yang ditekankan oleh semua geraja besar.

Agama sebagai “candu rakyat”

Pandang Karl Marx didasarkan pada premis desarnya bahwa kekuatan yang paling dominan dalam masyarakat adalah kekuatan ekonomi, sedangkan kekuatan yang lainnya adalah sekunder. Agama dilihat sebagai “kesadaran yang palsu” [Wood, 1981, hal. 12-15]. Karena hanya berkenan dengan hal-hal yang sepele dan semua atau hal-hal yang tidak ada, seperti sungguh-sungguh mencerminkan kepentingan ekonomi kelas sosial yang berkuasa. Agama merupakan “candu rakyat” karena hanya menawarkan “cita-cita yang tidak terjangkau”, membelokan rakyat dari perjuangan kelas dan memperpanjang eksploitasi mereka. Oleh karena itu, semua pemerintah komunis adalah musuh agama. Akan tetapi, sejumlah sarjana tidak sepakat bahwa Marxisme merupakan agama tandingan.

Agama sebagai kekuatan dinamis

Padangan mengenai agama sebagai lembaga bayangan yang mencerminkan kekuasaan dan kepentingan kelas yang berkuasa ditentang oleh sosiologi Jerman Max Weber. Weber [1864-1930] yang mengkaji kebangkitan kapitalisme berpendapat bahwa kapitalisme didukung oleh sikap yang ditekankan oleh Protestanisme asketif. Sehingga bukan (kekuatan) ekonomi yang menentukan agama, tetapi agamalah yang menentukan arah perkembangan ekonomi.

 

Struktur Asosiasi Agama

  • Setiap agama besar tidak hanya mempengaruhi masyarakat melalui etos budaya dan nilai-nilai yang dominan dibangun, tetapi juga melalui asosiasi agama yang dirangsang oleh agama tersebut. Dalam beberapa masyarakat yang sederhana, agama dilembagakan, tetapi tidak diorganisasi. Dengan kata lain masyarakat mempunyai lembaga agama, sistem kepercayaan, dan praktik keyakinan yang dibakukan, diresmikan dan dipandang perlu dan penting oleh seluruh anggota masyarakat.
  • Masyarakat yang sederhana biasanya tidak mempunyai organisasi agama. Praktik dan upacara agama seringkali dipimpin ole anggota keluarga tanpa sistem yang terorganisasi dari ulama atau pastor. Sejumlah masyarakat sederhana mempunyai seorang spesialis agama yang diakui di kampungnya, oleh orang Eropa biasa disebut dengan “tabib”, namun tidak memiliki struktur organisasi.

 

Peranan Agama

  1. Agama diperlakukan oleh manusia agar kehidupan manusia dalam pengembangan ilmu dapat lebih positif dan konstruktif.
  2. Agar manusia mampu memcahkan segala persoalan yang kompleks dan rumit.
  3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
  4. Menyangkal perbuatan-perbautan yang tidak atau kurang bermanfaat.
  5. Membina tata kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keutamaan moral.

 

Fungsi Manifes dan Laten Agama

Fungsi manifes agama

  • Membantu manusia dalam mencari identitas moral dan jati diri.
  • Meberikan penafsiran-penafsiran untuk membantu menjelaskan keadaan lingkungan (fisik dan sosial), menjelaskan keadaan manusia dalam kehidupan atas berbagai dunia (alam kandung, alam dunia, alam kubur dan lain-lain).
  • Meningkatkan kadar keramahan dalam bergaul serta solidaritas kelompok.

Fungsi yang tidak diharapkan/laten lembaga agama oleh masyarakat

  • Agama dijadikan sebagai landasan aktivitas bernuansa SARA dan sarana memberikan label terhadap suatu kelompok sebagai “religius” dan “tidak religius” secara ekstream dan berlebihan.
  • Agama sering kali dijadikan pemicu ketegangan, konflik maupun peperangan antar umat seagama namun berbeda aliran/mazhab, umat seagama namun berbeda lembaga agama, konflik umat berbeda agama, umat berpindah agama, maupun umat penganut aliran kepercayaan.
  • Agama dijadikan kedok untuk meminta-minta bantuan atas nama pribadi kelompok atau organisasi (di luar dari kepentingan agama).

 

Hubungan Timbal Balik dengan Lembaga Lain

  1. Agama dan keluarga. Hubungan timbal balik antara agama dan keluarga jarang diteliti oleh para sosiologi, nilai-nilai keyakinan, praktik dan agama merupakan faktor penting dalam keluarga Agama jelas merupakan suatu faktor dalam keluarga, namun sulit untuk memisahkan atau mengukurnya.
  2. Agama dan ekonomi
  3. Apakah agama mempunyai suatu pengaruh terhadap praktik bisnis? Perilaku bisnis seringkali tampak sama sekali tidak bertuhan dan amoral, namun agama sungguh mempengaruhi ekonomi. Keyakinan agama mempengaruhi kebiasaan kerja, pola konsumsi dan penerimaan atau penolakan produk, serta kebiasaan baru.